PATI, umbara.co.id – Penataan penyerapan telur untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak cukup hanya dilakukan antara asosiasi peternak dan pengelola SPPG. Keterlibatan kelompok-kelompok peternak di berbagai wilayah juga perlu diperkuat agar tidak ada pihak yang merasa berada di luar mekanisme penyerapan.
Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Golkar, Nanda Yahya, melihat komunikasi antarkelompok menjadi bagian penting dalam menata persoalan tersebut. Menurutnya, kondisi peternakan unggas di Pati cukup beragam sehingga pendekatan yang dilakukan juga tidak bisa hanya terpusat pada satu wadah.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam agenda tindak lanjut aksi damai Asosiasi Peternak Unggas Kabupaten Pati yang mempertemukan peternak dengan mitra SPPG se-Kabupaten Pati, Korcam SPPI MBG, pemerintah daerah, dan Forkopimda.
Nanda menilai keberadaan komunitas peternak di sejumlah kecamatan justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun sistem pasokan telur yang lebih dekat dengan SPPG.
“Yang perlu dibangun sekarang bukan hanya hubungan antara asosiasi dengan penyelenggara MBG, tetapi juga komunikasi dengan kelompok peternak di wilayah masing-masing. Mereka harus saling mengetahui kebutuhan dan kapasitas produksi yang ada,” ujar Nanda.
Menurutnya, pola komunikasi seperti itu dapat membantu menghindari terjadinya penumpukan produksi di satu wilayah sementara kebutuhan di wilayah lain justru dipenuhi dari sumber yang berbeda.
Ia juga mendorong asosiasi agar tidak mengambil posisi sebagai satu-satunya pintu komunikasi peternak. Sebaliknya, asosiasi diharapkan dapat menjadi penghubung yang memperkuat jejaring peternak unggas di Kabupaten Pati.
“Kalau asosiasi bisa merangkul komunitas yang ada di kecamatan-kecamatan, persoalan penyerapan akan lebih mudah dipetakan. SPPG juga bisa mengetahui peternak mana yang berada paling dekat dengan wilayah operasionalnya,” jelasnya.
Nanda berharap koordinasi tersebut menghasilkan pola penyerapan yang lebih terbuka dan terorganisasi. Dengan demikian, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memberikan ruang bagi sektor peternakan lokal untuk berkembang.
“Intinya jangan berjalan sendiri-sendiri. Kalau peternak, asosiasi, koperasi dan SPPG bisa duduk bersama, kita bisa mencari pola yang paling efektif untuk Pati,” tandas Nanda.
(ADV)














