Menu ✖

Mode Gelap
Komisi D DPRD Pati Dorong Pengawasan SPPG Diperketat, Jangan Tunggu Ada Kasus Anggaran Infrastruktur Harus Tepat Sasaran, DPRD Pati Soroti Prioritas Pembangunan Jalan Menata Ulang Koperasi Desa: Antara Ambisi Negara dan Kedaulatan Rakyat KPU KABUPATEN PESAWARAN GELAR RAPAT PLENO TERBUKA REKAPITULASI DAFTAR PEMILIH BERKELANJUTAN (PDPB) Investasi Masuk Pati, DPRD Tekankan Penguatan Kompetensi Tenaga Kerja Wakil Ketua DPRD Dorong Investasi Rp12,6 Triliun Perkuat Infrastruktur Penunjang Ekonomi Pati

Berita

Atasi Kekeringan Berulang, DPRD Pati Dorong 1.000 Titik Sumur Bor

badge-check


					Atasi Kekeringan Berulang, DPRD Pati Dorong 1.000 Titik Sumur Bor Perbesar

PATI, umbara.co.id – Setiap musim kemarau datang, persoalan air bersih kembali menjadi pekerjaan rumah bagi sejumlah wilayah di Kabupaten Pati. Truk tangki yang membawa air menjadi pemandangan yang lazim, tetapi kondisi tersebut dinilai belum bisa menjadi jawaban permanen.

Wakil Ketua DPRD Pati Hardi mendorong pemerintah mulai mengubah pola penanganan kekeringan dari sekadar respons darurat menuju pembangunan sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Salah satu gagasan yang didorongnya adalah pembangunan hingga 1.000 titik sumur bor di wilayah-wilayah yang memiliki riwayat kekeringan.

Hardi menilai keberadaan sumur bor dapat menjadi cadangan sumber air ketika sumur warga maupun sumber air permukaan mulai mengering.

“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan kekeringan secara serius, jangan setiap kemarau hanya mengandalkan dropping air. Kita harus memperbanyak sumber air permanen, salah satunya melalui pembangunan sumur bor,” kata Hardi.

Menurutnya, target 1.000 titik tersebut tidak harus direalisasikan sekaligus. Pemerintah dapat melakukannya secara bertahap dengan memprioritaskan desa yang setiap tahun mengalami kesulitan memperoleh air.

Ia menilai pendekatan tersebut lebih strategis karena infrastruktur yang dibangun dapat digunakan tidak hanya ketika terjadi krisis air, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Tidak harus langsung semuanya. Bisa bertahap, tetapi harus ada target yang jelas. Wilayah yang paling membutuhkan harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Hardi juga mengingatkan bahwa pembangunan sumur bor tidak boleh dilakukan secara asal. Kajian mengenai potensi air bawah tanah, debit, hingga kualitas air harus menjadi pertimbangan sebelum pengeboran.

Terlebih, karakteristik wilayah Pati berbeda-beda. Sejumlah kawasan memiliki potensi air bawah tanah yang berbeda, sementara wilayah pesisir juga perlu memperhitungkan kemungkinan air payau.

Karena itu, menurut Hardi, survei awal menjadi bagian penting dari program tersebut agar anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan sumber air yang bisa dimanfaatkan.

Di tengah kebutuhan penanganan kekeringan yang terus berulang, ia berharap gagasan 1.000 titik sumur bor dapat dibahas bersama pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebagai program penguatan ketahanan air Pati.

“Dropping air tetap diperlukan untuk kondisi sekarang. Tetapi kita juga harus berpikir bagaimana tahun depan, dua tahun lagi, persoalan ini tidak terus berulang dengan cara yang sama,” tegasnya.

(ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi D DPRD Pati Dorong Pengawasan SPPG Diperketat, Jangan Tunggu Ada Kasus

1 Oktober 2026 - 15:40 WIB

Anggaran Infrastruktur Harus Tepat Sasaran, DPRD Pati Soroti Prioritas Pembangunan Jalan

1 Oktober 2026 - 15:25 WIB

Menata Ulang Koperasi Desa: Antara Ambisi Negara dan Kedaulatan Rakyat

30 September 2026 - 21:12 WIB

KPU KABUPATEN PESAWARAN GELAR RAPAT PLENO TERBUKA REKAPITULASI DAFTAR PEMILIH BERKELANJUTAN (PDPB)

30 September 2026 - 19:53 WIB

Investasi Masuk Pati, DPRD Tekankan Penguatan Kompetensi Tenaga Kerja

30 September 2026 - 15:51 WIB

Trending di Advertorial