PATI, umbara.co.id – Rencana memperbanyak pembangunan sumur bor di wilayah rawan kekeringan Kabupaten Pati dinilai perlu disertai perencanaan yang matang. Penambahan jumlah titik sumber air memang penting, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan lokasi dan potensi air yang tersedia.
Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Yeti Kristianti, mengatakan pemerintah perlu memastikan setiap lokasi yang dipilih benar-benar layak sebelum pembangunan dilakukan. Menurutnya, pengeboran tanpa kajian berisiko menghasilkan infrastruktur yang tidak mampu memberikan manfaat maksimal.
“Jangan hanya mengejar jumlah titik. Yang lebih penting adalah titiknya tepat, sumber airnya ada, debitnya mencukupi, dan kualitas airnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Yeti menilai pemetaan daerah yang memiliki riwayat kekeringan harus menjadi dasar awal dalam menentukan lokasi pembangunan. Selanjutnya, data tersebut perlu dilengkapi dengan kajian kondisi air bawah tanah untuk mengetahui potensi sumber air di setiap kawasan.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat menentukan jenis penanganan yang sesuai. Tidak semua wilayah harus mendapatkan sumur bor, karena sebagian daerah mungkin lebih membutuhkan jaringan distribusi atau pengembangan sumber air dengan metode berbeda.
Selain kuantitas, Yeti mengingatkan kualitas air juga harus menjadi perhatian. Keberadaan sumber air bawah tanah belum tentu menjamin air tersebut dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Airnya ada belum tentu kualitasnya sesuai untuk kebutuhan masyarakat. Karena itu survei dan kajian harus dilakukan terlebih dahulu,” katanya.
Menurut Yeti, pembangunan yang didasarkan pada data juga akan membantu pemerintah menggunakan anggaran secara lebih efektif. Setiap titik yang dibangun harus memiliki dasar kebutuhan yang jelas serta mempertimbangkan manfaat yang akan diterima masyarakat.
Ia mendukung adanya target peningkatan jumlah sumber air permanen, termasuk jika pembangunan diarahkan hingga mencapai 1.000 titik. Namun, pelaksanaannya tetap harus dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan hasil pemetaan di lapangan.
“Kalau memang ada target sampai 1.000 titik, tentu itu bagus sebagai arah kebijakan. Tetapi pelaksanaannya harus berdasarkan pemetaan dan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Yeti berharap pembangunan infrastruktur air tidak menunggu hingga musim kemarau kembali mencapai kondisi kritis. Persiapan, survei, dan pembangunan sebaiknya dilakukan lebih awal sehingga fasilitas tersebut sudah siap digunakan ketika sumber air warga mulai menurun.
“Harapannya ketika kemarau berikutnya datang, kita sudah memiliki lebih banyak sumber air yang siap digunakan. Jadi masyarakat tidak selalu menunggu bantuan ketika sumurnya mulai kering,” pungkas Yeti.
(ADV)














