Menu

Mode Gelap
Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana Wagub Jateng Dorong Generasi Muda Lestarikan Wayang dan Karawitan

Pati

5.000 Santri Siap Turun ke Jalan Gelar Aksi Damai Tolak Kenaikan PBB-P2 di Pati

badge-check


					5.000 Santri Siap Turun ke Jalan Gelar Aksi Damai Tolak Kenaikan PBB-P2 di Pati Perbesar

PATI – Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (ASPIRASI) akan turut ambil bagian dalam aksi demonstrasi damai yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 13 Agustus 2025 di Alun-alun Pati. Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang dinilai memberatkan rakyat kecil.

Sekitar 5.000 santri dari berbagai penjuru Kabupaten Pati dijadwalkan ikut serta dalam unjuk rasa tersebut. Koordinator Umum ASPIRASI, Sahal Mahfudh, menegaskan bahwa aksi akan berjalan damai dan telah diberitahukan secara resmi kepada Polresta Pati.

“Insya Allah, kita akan membawa sekitar lima ribuan santri dari seluruh penjuru Pati. Ada yang dari Pati Utara, Selatan, Timur, Barat, juga dari Margoyoso, Cluwak, Tayu, Sukolilo, Kayen, Gabus, Batangan, Juwana, hingga Pati Kota,” ujar Sahal saat dikonfirmasi awak media, Rabu (6/8/2025).

Sahal menyebut, lonjakan PBB-P2 di sejumlah wilayah bahkan mencapai 250 hingga 1.000 persen. Menurutnya, hal ini tidak adil dan sangat menyulitkan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.

“Kita minta kenaikan pajak ini ditinjau ulang. Kalau pun harus naik, ya sewajarnya saja, 10 sampai 20 persen itu masih logis,” tegasnya.

Lebih lanjut, ASPIRASI juga menyoroti rencana renovasi Masjid Agung Baitunnur Pati yang menelan anggaran hingga Rp15 miliar. Mereka mempertanyakan urgensi proyek tersebut di tengah berbagai kebutuhan mendesak masyarakat.

“Masjidnya masih kokoh dan bagus, kenapa mesti direnovasi sebesar itu? Apalagi sampai ditutup selama empat bulan. Mohon dipertimbangkan ulang. Lebih baik dana dialokasikan ke hal yang lebih mendesak seperti kekeringan dan banjir yang rutin melanda Pati,” kritik Sahal.

Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendengarkan aspirasi masyarakat sebelum mengambil keputusan strategis.

“Apa pun yang menyangkut rakyat harus dikomunikasikan. Kita ini punya suara, punya hak untuk bersuara, dan itu yang akan kita suarakan tanggal 13 Agustus nanti,” tandasnya.

Aksi ini menjadi bagian dari gelombang protes masyarakat terhadap kebijakan fiskal daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. ASPIRASI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara tertib dan damai dalam bingkai demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal

2 Januari 2026 - 20:21 WIB

Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong

2 Januari 2026 - 20:05 WIB

Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo

31 Desember 2025 - 14:31 WIB

Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati

30 Desember 2025 - 08:08 WIB

Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana

29 Desember 2025 - 16:11 WIB

Trending di Berita