SEMARANG – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-38, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye budaya bertajuk “Kenduren, Slametan Simbol Kebersamaan” di area Car Free Day (CFD) Kota Semarang, baru-baru ini.
Kampanye ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali tradisi kenduren sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal Jawa yang mulai jarang ditemui di tengah masyarakat urban. Ketua panitia, Dafril Rifandi, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin memudarnya nilai-nilai kebersamaan di masyarakat modern.

“Kenduren adalah simbol rasa syukur dan kebersamaan. Kami ingin mengingatkan bahwa tradisi ini masih relevan untuk mempererat hubungan sosial di masa kini,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan doa bersama secara melingkar, menciptakan suasana sakral namun tetap terbuka. Setelah itu, mahasiswa membagikan nasi berkat kepada para pengunjung CFD yang melintas sebagai bentuk rasa syukur sekaligus simbol solidaritas.
Tak hanya itu, masyarakat juga diajak berinteraksi lewat sesi open mic dan permainan tarik benang yang sarat makna. Kegiatan ini pun disambut antusias oleh warga, terutama karena tradisi kenduren yang biasa dilakukan di lingkungan perkampungan kini dikemas secara lebih kreatif dan terbuka.
Beberapa pengunjung mengaku senang dengan kegiatan tersebut karena mengingatkan mereka akan nilai-nilai gotong royong yang dulu kental di masyarakat.

“Dengan membawa kenduren ke ruang publik seperti CFD, kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang segar dan modern,” tambah Dafril.
Melalui kampanye ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi USM ingin mendekatkan generasi muda pada budaya lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan bisa dihidupkan kembali dalam format yang sesuai dengan zaman, menjadikannya bagian dari edukasi publik yang menyenangkan dan penuh makna.














