PATI – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto bersama Wakil Menteri Ahmad Riza Patria melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pati, Kamis (24/7). Kunjungan ini dalam rangka menyampaikan dan mensosialisasikan program strategis pengembangan desa di daerah berjuluk Bumi Mina Tani tersebut.
Kehadiran kedua pejabat negara ini disambut langsung oleh Bupati Pati H. Sudewo, S.T., M.T., beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk Kapolresta Pati, Dandim 0718/Pati, Ketua DPRD, dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), bertempat di Pendopo Kabupaten Pati.


Mendes Yandri menyampaikan bahwa kementeriannya memiliki berbagai program unggulan yang siap dikembangkan di Pati. Beberapa di antaranya adalah program Desa Ekspor, Desa Wisata, Desa Tanaman Pangan, BUMDes, KopDes, serta penguatan desa-desa tematik lainnya.
“Kami berharap Kabupaten Pati bisa menjadi prioritas dalam pelaksanaan program-program tersebut. Dengan jumlah desa lebih dari 400 (401 Desa 5 Kelurahan), termasuk desa pertanian dan desa pesisir, Pati memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kerja sama lintas kementerian, lembaga, dan pelaku usaha,” jelas Yandri.
Ia menambahkan bahwa kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memetakan potensi yang ada di lapangan. Hal ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk memperkuat perekonomian serta mengentaskan kemiskinan.
“Insya Allah, kami akan mengelompokkan desa sesuai karakteristiknya dan mencari pasar yang tepat bagi produk unggulan. Kami juga mendorong hilirisasi produk desa agar nilai tambahnya semakin besar,” tambahnya.
Yandri menegaskan, Pati sangat potensial untuk menjadi mitra dalam pembangunan desa secara terpadu dan berkelanjutan. Salah satu indikatornya adalah keberadaan produk unggulan seperti ikan nila salin, udang vaname, dan bandeng Juwana, yang telah dikenal luas secara nasional.
Bupati Pati, H. Sudewo, turut mengapresiasi dukungan dari Kementerian Desa dan menyatakan kesiapan daerahnya untuk mengembangkan berbagai potensi desa menjadi lebih produktif dan berorientasi ekspor.
“Bandeng Juwana merupakan satu-satunya produk bandeng khas Pati yang telah menjadi ikon di Jawa Tengah dan dikenal luas di Indonesia. Potensinya masih bisa terus dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi besar dari ikan nila salin, yang saat ini dibudidayakan di lahan seluas lebih dari 1.800 hektare oleh masyarakat Pati. Menurutnya, ini merupakan salah satu program unggulan yang siap diarahkan menjadi produk ekspor.
“Produksi ikan nila salin pada tahun 2024 ini diperkirakan mencapai 7.500 ton, dan bisa panen hingga tiga kali dalam setahun, meski sebagian besar budidayanya masih konvensional,” ungkapnya.
Bupati menambahkan, program budidaya ini akan mendapat dukungan dari Kementerian Desa serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, baik dari segi penyediaan pakan, peningkatan teknik budidaya, maupun produktivitas. Targetnya, berat ikan nila salin bisa mencapai minimal 8 ons per ekor.
“Aspek pemasaran juga akan dikuatkan, baik di pasar nasional maupun internasional,” pungkas Sudewo.
Dengan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah pusat dan daerah, Kabupaten Pati optimistis mampu mewujudkan desa-desa mandiri, maju, dan berdaya saing tinggi di masa mendatang.














