Menu

Mode Gelap
Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana Wagub Jateng Dorong Generasi Muda Lestarikan Wayang dan Karawitan

Berita

Petani Pati Akui Penurunan Harga Pupuk Bantu Ringankan Biaya Tanam

badge-check


					Petani Pati Akui Penurunan Harga Pupuk Bantu Ringankan Biaya Tanam Perbesar

PATI – Pemerintah resmi menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai Rabu (22/10/2025). Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 mengenai Jenis, Harga Eceran Tertinggi dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2025.

Kebijakan tersebut mendapat sambutan positif dari para petani, termasuk Kamelan, warga Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Ia mengaku bersyukur atas penurunan harga yang dinilai sangat membantu petani di tengah meningkatnya biaya produksi.

“Kami memberikan apresiasi kepada pemerintah. Sebagai bentuk dukungan terhadap pertanian, pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen,” ujar Kamelan saat ditemui di lahannya, Kamis (23/10/2025).

Kamelan menjelaskan, dengan kebijakan ini, harga pupuk urea yang sebelumnya Rp112.500 per sak (50 kilogram) turun menjadi Rp90.000, sedangkan pupuk NPK Phonska turun dari Rp115.000 menjadi Rp92.000 per sak kemasan 50 kilogram.

Menurutnya, stok pupuk bersubsidi di wilayahnya saat ini masih terbilang aman. Hal itu karena alokasi subsidi yang selama ini disalurkan pemerintah cukup memadai.

“Untuk stok, karena selama ini kuota subsidi dicukupi bahkan ditambah, jadi stoknya lumayan aman,” ungkapnya.

Meski begitu, Kamelan mengungkapkan bahwa belum banyak petani yang mengetahui perubahan harga tersebut karena baru diumumkan sehari sebelumnya. Aktivitas penebusan pupuk pun masih berjalan normal seperti biasa.

“Sebetulnya ini baru. Kemarin kemungkinan belum ada penebusan, untuk hari ini mungkin mulai ada,” tambahnya.

Namun di sisi lain, ia menyoroti potensi munculnya mafia pupuk akibat selisih harga yang tinggi antara pupuk subsidi dan non-subsidi. Harga pupuk urea non-subsidi di pasaran bahkan bisa mencapai Rp450.000 per sak (50 kilogram).

“Perbedaan harga antara non-subsidi dan subsidi yang terlalu tinggi itu sangat menggiurkan bagi mafia pupuk,” katanya.

Karena itu, Kamelan meminta pemerintah memperketat pengawasan distribusi pupuk bersubsidi agar tidak terjadi penyimpangan yang bisa menimbulkan kelangkaan di tingkat petani.

“Bila pengawasan di tingkat distribusi tidak ada, kelangkaan pupuk bersubsidi bisa saja terjadi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal

2 Januari 2026 - 20:21 WIB

Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong

2 Januari 2026 - 20:05 WIB

Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo

31 Desember 2025 - 14:31 WIB

Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati

30 Desember 2025 - 08:08 WIB

Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana

29 Desember 2025 - 16:11 WIB

Trending di Berita