Menu

Mode Gelap
Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana Wagub Jateng Dorong Generasi Muda Lestarikan Wayang dan Karawitan

Berita

Tradisi Lomban Kupatan di Sungai Tayu Berjalan Meriah, Kepala Kerbau Dilarung ke Laut Jawa

badge-check


					Tradisi Lomban Kupatan di Sungai Tayu Berjalan Meriah, Kepala Kerbau Dilarung ke Laut Jawa Perbesar

Tayu, Pati – Tradisi Lomban Kupatan di Sungai Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berlangsung meriah pada Selasa (8/4/2025). Ritual adat yang ditandai dengan larungan kepala kerbau beserta empat kaki dan ekornya di muara sungai ini menjadi daya tarik warga setempat.

Ratusan orang telah memadati Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, sejak pagi hari. Mereka menantikan kedatangan kepala kerbau yang diarak dalam karnaval dari Balai Desa Sambiroto.

Setibanya di TPI, masyarakat bersama-sama melaksanakan doa. Mereka memohon keselamatan dan rezeki yang melimpah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Usai berdoa, kepala kerbau yang dihiasi janur dan dibekali sesaji berupa makanan kemudian dibawa menuju perahu nelayan.

Proses mengangkut kepala kerbau ke atas perahu tidaklah mudah. Belasan orang turun tangan untuk memastikan kepala kerbau tersebut dapat terangkut dengan baik.

Rombongan barongan turut mengiringi arak-arakan menuju muara sungai. Irama musik tradisional barongan menambah kekhidmatan acara. Sesampainya di muara, kepala kerbau pun dilarungkan ke perairan Laut Jawa sebagai simbol penutup ritual.

Tradisi Lomban ini sudah diadakan sejak tahun 1958, yang telah diadakan setiap tahunnya. Menurut Agus Mulyono sebagai ketua Panitia Lomban Kupatan Tayu.

“Larung Kerbau untuk sesaji, ini kepercayaan dan kebudayaan yang di larungkan di sungai Tayu pertigaan dengan laut, Juga kepala Kambing tidak di larung tapi di sungai tepi Tayu,” ungkap Agus Mulyono.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati, Rekso Suhartono, menyatakan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memiliki makna mendalam. “Larung kepala kerbau ini merupakan wujud syukur masyarakat atas berkah yang diberikan Tuhan, sekaligus harapan akan keselamatan dan kemakmuran,” ujarnya.

Ritual tahunan ini terus menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Pati, memperkaya khazanah tradisi Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Bibit Durian Musangking dan Blackthorn Mengalir ke Gunungwungkal

2 Januari 2026 - 20:21 WIB

Bupati Sudewo Tinjau Sentra Tape, Jeruk Pamelo, dan Kopi di Gembong

2 Januari 2026 - 20:05 WIB

Gerindra Pati Sambut 2026 dengan Komitmen Dukung Presiden Prabowo

31 Desember 2025 - 14:31 WIB

Kembang Api dan Keramaian Tahun Baru 2026 Dilarang di Pati

30 Desember 2025 - 08:08 WIB

Dorong Literasi Lingkungan, Bupati Kudus Resmikan Insinerator Sederhana

29 Desember 2025 - 16:11 WIB

Trending di Berita