Pati, umbara.co.id – Bau menyengat menyergap begitu kendaraan melintas di sepanjang Jalan Raya Juwana-Pati. Di sisi jalan, tumpukan sampah yang menggunung menyajikan pemandangan yang jauh dari kata nyaman. Bukan pemandangan baru, tapi ironi lama yang seolah dibiarkan terus terjadi.
Warga Desa Kebonsawahan, Kecamatan Juwana, sudah terlalu akrab dengan kondisi ini. Bagi mereka, sampah yang berserakan seperti menjadi bagian dari rutinitas harian. Sayangnya, bukan bagian yang mereka inginkan.

“Sudah bertahun-tahun begini. Kami capek mengeluh,” ujar Sumarno, salah satu warga setempat, dengan nada putus asa.
Keluhan yang sama juga datang dari para pengendara. Mereka harus menutup kaca kendaraan rapat-rapat saat melintas, demi menghindari aroma tidak sedap yang menyembur dari tumpukan sampah liar. “Kalau malam malah tambah parah, karena sering dibakar dan asapnya mengganggu,” kata Andri, pengemudi ojek online.
Permasalahan klasik ini rupanya turut mengundang perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati. Mukit, legislator dari Fraksi Demokrat, menyatakan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Ia menilai pemerintah daerah, terutama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pati, perlu bertindak lebih tegas dan solutif.
“Pembuangan sampah di pinggir jalan seperti ini tidak bisa lagi ditoleransi. DLH harus hadir dengan solusi nyata,” tegas Mukit.
Ia juga mendorong keterlibatan aktif dari masyarakat desa. Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis komunitas bisa menjadi jawaban jangka panjang. “Sampah organik bisa jadi pupuk, plastik bisa didaur ulang. Tapi semua itu perlu pembinaan dan kemauan dari desa hingga ke tingkat kabupaten,” jelasnya.
(ADV)














