PATI – Di Jalan Kolonel Sunandar Gang 6, Desa Winong, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, berdiri dua bangunan tempat ibadah yang menjadi simbol kuat toleransi dan persaudaraan. Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong dan Masjid Al-Muqorrobin berdiri saling berhadapan, dihubungkan oleh sebuah kanopi permanen yang membentang di atas jalan selebar sekitar lima meter.
Kanopi tersebut bukan sekadar pelindung dari panas dan hujan, melainkan menjadi simbol persaudaraan yang menghubungkan dua rumah ibadah dengan keyakinan berbeda. Pemandangan ini semakin terasa hangat pada Minggu malam (28/12/2025), saat jemaat gereja dan jemaah masjid berkumpul dalam acara bertajuk Sarasehan Paseduluran.

Di bawah naungan kanopi dan beralaskan terpal biru, puluhan warga duduk lesehan bersama. Suasana berlangsung akrab dan jauh dari kesan formal. Gelak tawa terdengar di sela-sela obrolan santai, sembari menikmati hidangan bakso dan aneka makanan ringan yang disajikan bersama.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Momen tersebut menjadi penegasan bahwa semangat nasionalisme dan persatuan menjadi fondasi utama kerukunan yang telah lama tumbuh di Desa Winong.
Sarasehan ini digelar dengan latar belakang keputusan GKMI Winong yang tahun ini memilih tidak mengadakan perayaan Natal seperti biasanya. Pendeta GKMI Winong, Didik Hartono, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk empati kepada masyarakat di wilayah lain, khususnya di Sumatra, yang tengah dilanda bencana banjir dan tanah longsor.
“Kami belajar berempati dengan saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana alam. Sebagai gantinya, kami menyelenggarakan sarasehan ini untuk tetap merawat persaudaraan yang selama ini sudah terjalin sangat baik antara GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin serta masyarakat di lingkungan sekitar,” ujar Didik Hartono.
Dalam sarasehan tersebut, GKMI Winong mengundang berbagai unsur masyarakat. Selain jemaat dan pengurus gereja, hadir pula takmir Masjid Al-Muqorrobin, kepala desa, Forum Kesehatan Desa, ketua RW dan RT, serta tokoh agama Islam setempat. Acara juga diisi dengan pemutaran film dokumenter bertema perdamaian karya Pendeta Paulus Hartono dari Solo.
“Film ini kami bagikan untuk menyemangati kembali bagaimana kita merawat persaudaraan di antara kami,” tambah Didik.
Didik juga merefleksikan makna Natal dalam konteks kehidupan berbangsa. Menurutnya, tema Natal nasional tentang keluarga dimaknai lebih luas sebagai keluarga besar bangsa Indonesia.
“Indonesia ini adalah satu keluarga besar dengan banyak ragam di dalamnya. Kehadiran Tuhan nyata ketika umatnya mau hidup rukun satu dengan yang lain di tengah keberagaman,” tegasnya.
Kerukunan tersebut diakui bukan sekadar wacana. Tokoh agama Islam Desa Winong, Rachmanudin, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif GKMI Winong.
“Ini acara yang luar biasa. Sarasehan ini memperkuat toleransi yang sebenarnya sudah terbentuk sejak lama di Winong. Kita disatukan dalam satu visi, yaitu persatuan NKRI,” ungkap Rachmanudin.
Ia menilai, dialog antarwarga dan pemutaran film perdamaian menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan keyakinan, nilai kemanusiaan harus tetap menjadi ikatan utama.
Desa Winong pun menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan warna yang memperindah tenun kebangsaan. Di bawah kanopi yang menghubungkan gereja dan masjid, warga tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi harapan akan Indonesia yang rukun dan damai.
Kanopi itu bukan sekadar struktur besi, melainkan jembatan hati yang merekatkan persaudaraan lintas iman dan tak lekang oleh waktu.














