PATI, umbara.co.id – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, meninjau langsung bekas kantor Satpol PP di kawasan Jalan RA Kartini, tepat di belakang Kantor Bupati Pati, Minggu (19/4). Lokasi tersebut direncanakan segera direvitalisasi menjadi Museum Cagar Budaya Kabupaten Pati.
Peninjauan ini menjadi langkah awal pemerintah daerah dalam upaya menghimpun berbagai benda pusaka serta warisan sejarah Pati yang selama ini tersebar di sejumlah daerah. Museum tersebut juga akan difungsikan sebagai ruang edukasi gratis bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar.

Chandra mengungkapkan, banyak artefak bersejarah milik Pati saat ini berada di luar daerah, seperti di Yogyakarta, Kudus, hingga Museum Ronggowarsito. Kondisi ini mendorong Pemkab untuk mengonsolidasikan peninggalan tersebut agar dapat diakses masyarakat dalam satu lokasi terpusat.
“Kantor Satpol PP ini akan kita renovasi, kita jadikan museum cagar budaya Kabupaten Pati. Karena ternyata kita masih banyak benda-benda pusaka ataupun warisan budaya Kabupaten Pati yang tersebar di berbagai tempat,” ujar Chandra.
Ia menambahkan, seluruh koleksi nantinya akan ditempatkan di bangunan bekas kantor tersebut, sehingga masyarakat Pati dapat dengan mudah mempelajari sejarah daerahnya sendiri.
“Nanti kita letakkan di sini, sehingga masyarakat Pati, adik-adik sekolah bisa mempelajari sejarah daerahnya sendiri. Insya Allah segera kita realisasikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, pengembangan museum ini akan terintegrasi dengan kawasan Pendopo Kabupaten Pati yang selama ini telah dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan outing class. Konsep ruang terbuka edukatif di area pendopo akan dipadukan dengan museum sebagai satu kesatuan destinasi pembelajaran.
Dengan konsep tersebut, Pemkab berharap museum tidak hanya menjadi pusat pelestarian sejarah, tetapi juga destinasi wisata edukatif yang menarik bagi masyarakat luas.
Selain itu, keberadaan museum dan optimalisasi kawasan pendopo diharapkan mampu mendekatkan masyarakat dengan pusat pemerintahan sekaligus memperkuat pemahaman tentang sejarah dan kepemimpinan daerah.
“Sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah sendiri,” pungkasnya.
(ADV)














